Halaman

Ahad, Julai 03, 2011

Sejauh mana Kepercayaanku..?

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
~Salam UkhuwahFillah~

Allah Tuhanku
Sejauh mana keyakinan yang kita ucapkan...?

"Siapa percaya kepada Allah..?"

Saat ditanya soalan seperti itu kepada orang Islam,pasti semua akan menjawab "YA"
Sekalipun kita tujukan soalan itu kepada seorang pencuri,kaki maksiat,penagih dadah dan sewaktu dengannya,mereka akan menjawab "YA".

Namun,bagaimana kepercayaan kita itu..? Sejauh mana keyakinan kepada Allah yang selama ini kita ucapkan..? Sejauh dan sedalam mana..?  Soal diri masing-masing,dan saya tidak memerlukan anda memberikan jawapan disini,biarlah hati anda yang menjawabnya..:)


Kepercayaan yang tipis


Ya.

Kepercayaan yang tipis.Itulah masalah dalam umat Islam hari ini.

Bila mana sesuatu yang kita tidak nampak,amat mudah untuk kita melupakannya.Mulalah kepercayaan itu dipinggirkan begitu sahaja.Entah,dimana sudah letaknya keimanan kepada Allah yang merupakan asas kepada kehidupan ini.

Kalau kita lihat pada rukum Iman,rukun yang pertama sekali ialah Beriman Kepada Allah dan kalau dalam rukun Islam,rukun yang pertama sekali ialah Mengucap dua kalimah syahadah.Nah,dari situ kita lihat dari keduanya,semuanya bermula dengan asas kepercayaan kepada Allah.

Dalam lafaz syahadah,kita lafazkan "Aku bersaksi bahawa Tiada Tuhan selain Allah...".Berkaitan dengan kepercayaan bukan..?

Jadi,cuba kita soal diri kita,sejauh mana keimanan dan keyakinan kita kepada Allah Rabbul Alamin..?.


Hanya Dibibir...


Ramai pasti akan mengatakan mereka percaya adanya syurga dan adanya neraka.Ramai yang tahu neraka tempat siksaan dan syurga tempat penuh kenikmatan.Ramai yang tahu maksiat itu dosa,meninggalkan solat itu dosa.Namun,apakah ianya satu yang hanya lafaz semata-mata.

Hakikatnya hari ini,ramai yang hanya mengucapakan semua itu dibibir.Begitu juga dengan kepercayaan kepada Allah.Ramai yang hanya menyakininya melalui kata-kata sahaja dan tidak masuk ke dalam hati dan sanubari.

Bukanlah saya mengutuk hamba Allah yang lain,tapi ini juga adalah untuk saya juga sebenarnya.Hakikatnya saya mudah alpa.

Kata-kata mudah untuk dilafazkan,namun 'tanda' dari lafaz itu susah untuk dilaksanakan."Aku percaya kepada Allah",mudah sekali untuk dilafaz,namun untuk melaksanakan suruhan-Nya itu berat sekali.Inilah yang dikatakan hanya dibibir.

Manusia yang benar-benar mantap keimananya kepada Allah,pasti akan merasa senang dengan suruhan Tuhannya,merasa tenang setiap waktu,merasa bahagia melaksanakan suruhan-Nya kerana dalam jiwa mereka terdapat keyakinan bahawa kehidupan dunia ini hanyalah sementara jika hendak dibandingkan dengan kehidupan akhirat sana.Biarlah susah didunia,untuk kesenangan di akhirat.


Kepercayaan yang disisihkan


Ramai hari ini yang mengaku cinta kepada Allah,mengaku percaya kepada Allah namun hidup terus bergelumungan dengan maksiat.

Inikah tanda kepercayaan mereka kepada Allah..?  Inikah tanda sayang mereka kepada Allah..?

Oh,munafik sungguh manusia seperti itu.(Ya Allah,ampuni hamba-Mu ini andai diriku termasuk dalam golongan munafik)

Kepercayaan itu telah disisihkan.Allah telah diletakkan ketepi dalam kehidupan.Dunia didahulukan,Allah entah   kemana sudah diletakkan.

Itukah tanda kepercayaa kita..? Sedang bibir bangga mengatakan 'cinta kepada Allah', kita asyik dalam kehangatan dunia.Berhibur sana sini,berpengangan tangan dengan kekasih,maksiat menjadi santapan jiwa, berpakaian ala 'bertelanjang' (sebagaimana Hadis Nabi s.a.w.),perhiasan mula dibaggakan,dunia ini ingin dimiliki,perempuan,seks,zina,harta,wang,pangkat dan darjat,semuanya dikerjar bagaikan binatang buas kelaparan.

Itukah tanda kepercayaan kita kepada Allah...?????

Bukankah Allah ada berkata dalam Kalam-Nya

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gementerlah hati mereka,dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya,bertambahlah iman mereka,dan kepada Rabblah tempat mereka bertawakal"



Penutup 


Mari,kita sama-sama ukur tahap keimanan kita kepada Allah.

Adakah keimanan dan kepercayaan kita itu hanya luahan dibibir semata-mata atau ianya dari hati yang tulus ikhlas dalam mencintai-Nya.

Mari,kita kembali kepada-Nya,kembali menyusuri susur jalan yang telah tersedia luas menuju keredhaan-Nya yang abadi.Sama-sama kita kembali mantapkan iman yang semakin tipis kepada-Nya,semoga jiwa ini menjadi jiwa yang sentiasa gementar kepada-Nya dan terpelihara diri kita dari jatuh ke lembah kebinasaan.

Keimanan itu indah,biarlah ianya bermula dihati yang bersih dan ikhlas.

Semoga kita menjadi hamba-Nya yang benar-benar percaya kepada-Nya.

Tiada ulasan: